Menjaga Kualitas Air dengan Kearifan Lokal, Persembahan Terakhir Prof. Wiryanto

0
117

Saat ini manusia dengan teknologi yang dikuasainya merasa bahwa alam tidak lagi sakral, karena ia merasa bisa menguasainya. Manusia tidak lagi merasa harus mengikuti irama dan hukum alam, tetapi menentukan irama dan hukumnya sendiri. Demikian dikatakan oleh Prof. Wiryanto dalam pidato pengukuhan Guru Besar pada Kamis (29/3/2018) di Auditorium Universitas Sebelas Maret. Wiryanto dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Tawar dan menjadi guru besar ke-12 Fakultas MIPA dan ke-191 UNS.

Menurut Wiryanto, kearifan lokal yang terdiri dari dua sifat yaitu yang dapat diakses publik dan bersifat rahasia, sakral dan dipegang teguh muncul melalui proses internalisasi yang panjang dan turun menurun sebagai akibat interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

Prof. Wiryanto, (Tengah) menerima pengalungan samir oleh Prof. Ravik Karsidi (Rektor) dan Ketua Senat Prof. Suntoro sebagai tanda pengukuhan Guru Besar di Auditorium UNS (29/3/2018)

Wiryanto memberikan contoh Kahyangan. Kahyangan adalah obyek wisata alam msistis yang ada di Desa Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri. “Di sana (Kahyangan) menyimpan banyak misteri yang masih dilestarikan dan mempunyai nuansa pengelolaan sumber daya air. Dengan masih terpeliharanya kearifan lokal tersebut, sumber daya air di Kahyangan masih terjaga kualitasnya,” demikian dikatakan Wiryanto dalam pidatonya.

Dikatakan oleh Wiryanto, banyak sumber daya air dikelola dengan tidak memasukan pelestarian kekayaan sosial budaya sebagai bahan integral dari program pembangunan. Dalam konsep pembangunan modern, sering terabaikannya kearifan lokal atau tradisi yang berkembang di masyarakat. Merapuhnya kearifan lokal menurutnya terjadi seiring dengan makin besarnya jumlah penduduk dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meningkatnya jumlah penduduk dan beragamnya kebutuhan manusia, memicu eksploitasi sumber daya alam yang semakin besar.

Wiryanto memberikan rekomendasi untuk pencegahan bencana ekologi yang lebih dahsyat dengan mereposisi dan merevitalisasi penegakan hukum lingkunagn yan berbudaya. Agar dapat berjaan dengan baik, Wiryanto memberikan resep apa yang disebut Panca Wangsa untuk saling bersinergi. Adapun panca wangsa yang dimaksud adalah pertama, unsur pemerintah baik pusat maupun daerah; kedua, pakar (cendekiawan, rohaniawan, budayawan); ketiga, media massa (baik cetak maupun elektronik); keempat, dunia usaha (hartawan); dan kelima, masyarakat (rakyat).

“Jika panca wangsa ini saling menguatkan dan bersinergi, maka diibaratkan dengan kelima jari yang dikepalkan menjadi sebuah tinju yang punya kekuatan dahsyat,” ujar Wiryanto.

Menurut Wiryanto, keterpaduan pengelolaan sumber daya air tersebut di atas, perlu didukung oleh kearifan lokal yang sudah tumbuh berkembang di suatu kawasan sumber daya air tersebut, untuk dapat membangkitkan semangat masyarakat berpartisipasi dalam pengeolaan sumber daya air.

Karya ini menjadi persembahan terakhir Prof. Wiryanto, pasalnya selesai dikukuhkan sebagai guru besar, pada sore harinya beliau menghebuskan nafas terakhir, pada usia 65 tahun. Selamat Jalan Prof. Wiryanto, apresiasi untuk karya dan dedikasinya di dunia pendidikan.selama ini. [Mnr]