FMIPA UNS – Revolusi digital yang terjadi saat ini terdapat beberapa perkembangan diantaranya informasi dapat disebarkan lebih cepat dari sebelumnya dimana revolusi ini akan terjadi pada tingkat global dan akan mempengaruhi masyarakat, yang berakibat serta berdampak secara sistemik di beberapa tempat. Salah satu bidang yang terdampak adalah bidang kesehatan, termasuk didalamya adalah bidang farmasi, baik farmasi  industri maupun pelayanan kefarmasian. Transformasi ini akan berdampak positif jika pengetahuan tentang revolusi digital dipahami dengan baik.

Hal ini mengemuka pada Seminar Nasional Farmasi yang diselenggrakan oleh Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (FMIPA UNS) pada hari Sabtu (31/8/2019) di Hotel Swissbellin Saripetojo Surakarta. Kegiatan Seminar Nasional atau Annual Pharmacy Conference merupakan kegiatan tahunan, dimana pada tahun ini mengambil tema “Digitalisasi dalam Manufacturing Process dan Pharmacy Services”. Seminar sekaligus Workshop ini  diikuti oleh 256 peserta yang terdiri dari praktisi farmasi klinik, akademisi, peneliti dan mahasiswa dengan 22 orang sebagai pemakalah.

Dekan Fakultas MIPA Drs. Harjana, M.Si., Ph, D mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap pada tahun berikutnya Prodi Farmasi menyelenggarakan Seminar Internasional. Dekan juga menyinggung Prodi Farmasi yang menjadi pilihan idola karena ketetatan untuk masuk Farmasi termasuk tinggi.

“Untuk jalur seleksi mandiri sebanyak 1.099 orang mendaftar prodi farmasi, padahal yang diterima hanya 11 orang,” ujar Dekan.

Dekan juga berharap agar kegiatan ini tidak hanya berhenti pada seminar saja, namun juga ada kerjasama yang berkelanjutan. Tidak hanya pada kesempatan ini saja industri memberikan masukan, akan tetapi juga dilain kesempatan sehingga ada sinergi antara industri dan perguruan tinggi. Kampus sebagai sarana untuk pembelajaran bukan hanya bidang akademik, akan tetapi juga pembelajaran softskill seperti aktif dalam organisasi atau kegiatan lain di luar akademik.

Muhammad Jasrif Teguh, dari Kimia Farma Apotek sebagai salah satu pembicara dalam seminar mengatakan  bahwa industri farmasi harus mengikuti perkembangan teknologi. Saat ini industri farmasi besar melakukan inovasi dengan memberikan layanan online, sehingga pelanggan membeli produk farmasi tidak harus datang secara fisik, bisa dilakukan dari rumah. Jika tidak melakukan inovasi digital maka akan tertinggal dan kalah bersaing.

Dra. Endang L. Budiarti ketika memberikan materi pada Seminar Nasional APC pada Sabtu (31/8/2019)

Sementara Dra. Endang L. Budiarti apoteker RS Bethesda Yogyakarta yang menjadi pembicara kedua mengatakan pentingya untuk meningkatkan pelayanan kefarmasian berbasis digital. Sehingga apoteker diharapkan menghargai dan responsive terhadap keluhan pasien. Dra. Endang mengatakan strategi inovasi pelayanan diantaranya adalah menstarndarkan resep, akses mudah dan simple serta bisa bertemu atau berkomunikasi dengan pasien. Karena menurut Endang, hanya apoteker yang bisa menjelasakan kenapa obat harus diminum sesuai aturan. Sebagai contoh ada obat yang diminum setelah makan dan sebelum makan.

Tujuan diadakannya seminar ini adalah sebagai wadah diskusi dan interaksi antara akademisi, praktisi farmasi dan masyarakat tentang revolusi digital dalam farmasi industri  maupun pelayanan kefarmasian.  Disamping itu juga sebagai wadah pengembangan  sumber daya dalam farmasi  industri maupun pelayanan kefarmasian yang menjadi bagian dari kemajuan ilmu kefarmasian. [Mnr/Mipa]