Gagas Suplemen Kesehatan dari Ampas Kopi Antarkan Mahasiswa FMIPA Juara LKTI Nasional

0
77
Mahasiswa Fakultas MIPA UNS, Yochidamai Ahsanitaqwim (Biologi), Zaqiah Yuniati (Biologi) dan Silmi Machmudah (Fisika) menjadi Juara Pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah di Universitas Hasanuddin Makassar

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil menjadi Juara Nasonal pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Lomba Karya Tulis Nasional INSIGHT 2018 yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Bidikmisi (IKAB) Universitas Hasanuddin (Unhas) yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Oktober 2018 di Universitas Hasanuddin Makassar. Setelah melalaui beberapa tahapan seleksi akhirnya mengantarkan tim Fakulats MIPA lolos kebabak final. Adapun kepanjangan INSIGHT sendiri adalah IKAB National Scientific and Writing Competition.

Dengan mengangkat tema tentang minyak ampas kopi lokal (waste indigenous coffee oil) berhasil mengantarkan Yochidamai Ahsanitaqwim (Biologi), Zaqiah Yuniati (Biologi) dan Silmi Machmudah (Fisika) menjadi juara pertama ajang tersebut mengalahkan tim dari berbagai universitas ternama.

Ampas kopi lokal yang kami maksud sebagaimana yang disampaikan oleh Yochidamai adalah seperti ampas seduhan kopi gayo, kopi toraja, kopi jawa, flores, kintamani, dan lain-lain dimana produksi dan konsumsi kopi lokal tersebut sangat melimpah di Indonesia

Masih menurut Yochidamai, potensi minyak ampas kopi lokal sangat baik dalam mendukung perkembangan otak janin dan batita (bayi di bawah tiga tahun). Waste Indigenous Coffee Oil (WI-Fee Oil) ini rencananya akan dibuat suplemen kesehatan buat ibu hamil dan batita.

Uji klinis dari penelitian terdahulu hanya melihat komposisi asam lemak dan sifat fisikokimia minyak ampas kopi secara umum, namun belum diujikan secara in vivo mengenai keterkaitannya dengan perkembangan otak manusia.

“Oleh karena itu, sebagai upaya follow up dari kami, kami akan mengajukan proposal PKM PE dengan tema besar tersebut untuk diujikan pada kinerja memori otak tikus,” pungkas Yochidamai. [MnR]